Resensi Buku "Generation Gap(less): Seni Menjalin Relasi Antargenerasi"
Judul Buku: Generation Gap(less): Seni Menjalin Relasi Antargenerasi
Penulis: Erwin Parengkuan & Becky Tumewu
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2023
Jumlah Halaman: 256 halaman
Sinopsis: Buku Generation Gap(less): Seni Menjalin Relasi Antargenerasi karya Erwin Parengkuan dan Becky Tumewu membahas tentang bagaimana cara membangun hubungan yang harmonis antar generasi yang memiliki cara pandang dan nilai yang berbeda. Buku ini menyajikan perspektif baru mengenai “gap” atau jurang pemisah antar generasi yang sering kali menjadi penyebab konflik dalam kehidupan sehari-hari, baik di keluarga, tempat kerja, maupun dalam masyarakat secara umum.
Dalam buku ini, penulis mengajak pembaca untuk memahami perbedaan antar generasi—baik itu generasi Baby Boomers, X, Y (Millennial), dan Z—serta cara-cara untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan jarak yang terbentuk akibat perbedaan-perbedaan tersebut. Dengan pendekatan yang menggabungkan psikologi, sosiologi, dan komunikasi, buku ini menawarkan wawasan serta tips praktis untuk menjalin hubungan yang lebih baik dan saling memahami antar generasi.
Ulasan: Generation Gap(less) memberikan panduan yang sangat relevan di zaman modern ini, di mana perbedaan nilai, pandangan hidup, dan gaya komunikasi antar generasi sering kali menimbulkan gesekan. Erwin Parengkuan dan Becky Tumewu dengan bijak menyampaikan pentingnya sikap empati, keterbukaan, dan komunikasi efektif dalam menjembatani perbedaan tersebut.
Salah satu keunggulan buku ini adalah cara penulis mengungkapkan masalah yang kompleks dengan bahasa yang sederhana namun tajam. Mereka tidak hanya mengungkapkan teori, tetapi juga memberikan contoh-contoh kasus yang nyata dan aplikatif yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam konteks keluarga, pekerjaan, maupun hubungan sosial. Pembaca akan merasa bahwa topik ini sangat dekat dengan pengalaman mereka.
Buku ini juga dilengkapi dengan saran-saran praktis untuk menyikapi perbedaan antar generasi, mulai dari cara berkomunikasi yang efektif hingga bagaimana mengelola ekspektasi dan toleransi. Pendekatan yang diambil dalam buku ini tidak hanya membantu pembaca memahami akar permasalahan, tetapi juga memberikan jalan keluar untuk menciptakan hubungan yang lebih harmonis tanpa harus menghilangkan identitas atau pandangan masing-masing generasi.
Kelebihan:
- Menyajikan topik yang sangat relevan dan penting dalam kehidupan sosial, terutama di era digital yang semakin memperlihatkan kesenjangan generasi.
- Pendekatan yang menggunakan contoh kasus nyata dan mudah dipahami.
- Memberikan solusi praktis untuk menjalin hubungan antargenerasi yang lebih baik.
- Tulisannya ringan, mudah dicerna, dan cocok untuk berbagai kalangan, dari muda hingga dewasa.
Kekurangan:
- Buku ini mungkin terasa terlalu fokus pada teori dan saran praktis, sehingga pembaca yang mencari pembahasan lebih mendalam mengenai dampak perbedaan generasi di level sosial dan budaya bisa merasa kurang puas.
- Beberapa bagian bisa terasa agak berulang dalam penekanan pada pentingnya komunikasi dan empati, meskipun ini adalah hal yang sangat penting.
Kesimpulan: Generation Gap(less) adalah buku yang sangat berguna bagi siapa saja yang ingin memahami dan mengatasi perbedaan antar generasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan yang mudah dipahami, buku ini memberikan wawasan tentang bagaimana cara membangun hubungan yang lebih harmonis meski memiliki latar belakang dan pandangan yang berbeda. Erwin Parengkuan dan Becky Tumewu berhasil menyajikan karya yang tidak hanya relevan tetapi juga aplikatif, mengajak pembaca untuk lebih memahami dan menerima perbedaan antar generasi dengan cara yang penuh empati dan saling menghargai. Buku ini cocok dibaca oleh siapa saja yang ingin memperbaiki hubungan antargenerasi, baik dalam keluarga, pekerjaan, atau masyarakat.

No comments:
Post a Comment